Air


Air (Water)

Dari sekian banyak zat pokok kehidupan ada satu nama yang dapat dikatakan sangat penting bagi diri kita, yaitu air (water). Kita dibuat sangat ketergantungan dengannya. Dia ada sebelum kita ada, ada di dalam diri kita, ada disekitar kita, ada untuk kehidupan kita. Kita pasti setuju bahwa kita sangat membutuhkan dia. Dari sini mungkin kita dapat mengambil hikmah akan perilaku air tersebut,  karena air punya perilaku seperti diri kita.

Kita mulai dari awal air itu mengalir.

Di lereng-lereng pegunungan ………. ya ……. dari situ kita akan menemukan mata air yang masih bersih dan masih murni. Dia lahir dari derajat yang sangat tinggi dalam bentuk kesederhanaan dan kemurnian. Tak heran banyak perusahaan air minum kemasan mengambil bahan dasarnya dari sini. Karena dia masih murni dan suci seperti waktu kita dilahirkan ke muka bumi ini.

Dalam perjalanannya menuju kehidupan yang lebih luas, dengan ikhlas dia berusaha untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh makhluk di sekeliling jalan yang ia lalui. Dari sisi lain, perjalanannya adalah perjuangan untuk melepaskan tekanan-tekanan yang kuat dan menuju ke suatu tempat yang tekanannya sangat ringan dan mungkin tanpa tekanan.

Dia merdeka akan jalan yang ia lalui. Ia bebas menentukan sendiri jalan yang berliku itu. Dia berjalan dengan riak-riak kecil yang indah. Mungkin kitalah  yang terlalu mendikte atas perjalanannya itu, demi sebuah kepentingan-kepentingan untuk diri kita sendiri. Mungkin bila perlakuan kita terhadap air tidak terlalu berlebihan karena keserakahan kita, pastilah dia sangat ikhlas atas perlakuan kita. Dia tidak akan berontak dari jalan yang kita buatkan. Tapi lihat saja …….. dia bisa begitu kejam terhadap diri kita. Kita bisa ditelannya mentah-mentah begitu dia marah.

Coba kita perhatikan………………………

Apa imbalan kita terhadap ke-ikhlasan dia kepada kita. Kita tidak banyak berbuat untuk dia. Kita sering meremehkan dia. Kita berikan sesuatu yang sudah tidak berguna kepadanya. Kita hanya mengotori dirinya. Bahkan kita berlomba untuk itu, demi keserakahan kita.

Akhirnya ……. Dalam perjalanan panjang nya, dia mengakhirinya kedalam kebersamaan dengan sesamanya. Ya …….. di lautan luas dia bersama sesamanya dari seluruh dunia mengakhiri perjalanannya. Dalam kebersamaan itu tidak terdapat perbedaan dari mana ia berasal, bagaimana warna dia, seberapa besar ukuran dia. Dia hanya mengenal satu nama …. AIR (Water)……

Bahkan di ujung perjalannya yang panjang itu dia masih berusaha untuk bisa memberikan apa yang dia miliki untuk kepentingan makhluk di bumi ini. Dia berteriak kepada matahari.

Wahai Matahari luluhkan aku, angkat aku, agar aku bisa terbang bersama angin dan kembali kebumi dalam bentuk hujan, salju, dan embun, untuk bisa mengabdikanku kepada seluruh isi bumi ini dengan penuh keikhlasan”.

Dan begitulah seterusnya berputar-putar tanpa henti membentuk suatu siklus yang maha indah untuk kita ambil hikmahnya.

Maha Besar Allah dengan segala ciptaannya.

Marilah kita hargai keikhlasan air.

Dan berbahagialah kita  yang bisa berguna bagi sekitarnya selama hidupnya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: